KH Din Syamsuddin : Klaim Paling Pancasilais Membahayakan Tatanan Berbangsa dan Bernegara

Risalahnews.com,-- Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof. Dr KH Din Syamsuddin menilai, Pancasila saat ini mengalami politisasi. Sehingga dirinya sendiri dan hanya kelompok tertentu saja yang Pancasilais.

Menurutnya, jika kelompok-kelompok tertentu di Indonesia yang merasa dirinya pancasilais sementara yang lainnya tidak, akan membahayakan kehidupan tatanan berbangsa dan bernegara. Karena dari anak bangsa sendiri bisa ada saling curiga-mencurigai.

“Pancasila sebagai ideologi bangsa yang sudah disepakati. Namun, saat ini mengalami politisasi oleh kelompok romantis yang terjebak romantisme, yang menganggap mereka sajalah satu-satunya yang Pancasilais. Sementara yang lain tidak. Ini tidak bagus,” katanya di Gedung DPR (31/6).

Tokoh Muhammadiyah ini meminta seluruh elemen bangsa Indonesia untuk tidak melakukan tafsiran secara tunggal terhadap nilai-nilai Pancasila. Sehingga pihak lain dicurigau tidak pancasilais.

Untuk itu, Din mengusulkan kepada para elite bangsa untuk mengambil kesepakatan bersama dari nilai-nilai ideologi negara agar bisa meneguhkan kembali komitmen berbangsa dan negara melalui Pancasila.

“Alasan itu, Saya mengusulkan tadi kepada para elit politik untuk duduk bersama lagi, membahas isu kebangsaan. Selain itu juga untuk meneguhkan cita-cita pendiri bangsa, karena banyak yang keliru pada amandemen kita,” ujarnya.

Din juga menyayangkan karena kalangan umat Islam dianggap tak Pancasila. Karena itu, ia minta pada umat Islam Indonesia untuk tidak malu atau terjebak seolah anggapan tidak pancasilais.
“Umat Islam jangan seolah berhadapan dengan ideologi Pancasila. Sebab, Pancasila itu dinilai sangat Islami. Tidak ada lagi pertentangan lagi antara Islam dan Pancasila yang sudah menjadi satu kesatuan utuh. Yang jadi persoalan saat ini, nilai kesakralan Pancasila kita sudah hilang cukup lama dari bangsa ini,” jelasnya.

“Dan itu tidak hanya hilang kesakralannya pada rezim ini, tetapi sudah cukup lama berlangsung tanpa banyak yang sadar. Coba kita ingat, di rezim Orde Baru, kita terjebak dengan klaim-klaim saja, dan menjadi senjata untuk memukul pihak lain (lawan politik, red). Terutama, yang anti-Pancasila di zaman itu,” sambung Din.*.**lp/dt


Previous Post Next Post