Fatwa DH Persis Tentang “BURUKUL BA'IR (KAIFIYAT TURUN UNTUK SUJUD)”

DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM
Pada Sidang Dewan Hisbah II Pasca Muktamar XIII
Di PC Persis Banjaran, 03 Rabi'uts Tsani 1428 H
21 April 2007 M

Tentang:

“BURUKUL BA'IR (KAIFIYAT TURUN UNTUK SUJUD)”

بسم الله الرحَن الرحيم

Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah:

MENGINGAT:

1. Hadis-hadis tentang keharusan mengikuti kaifiat salat Rasulullah saw., antara lain

إِنَََّّا صَنَ عْتُ هَذَا لِتَأْتََُّوْا بِِْ وَلِتَ عْلَمُوْا صَلاَتِِْ

"Ini aku lakukan tiada lain agar kamu bermakmum kepadaku dan mengetahui salatku," H.r. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, I:310

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْ تُمُوْنِِْ أُصَلِِيْ

"Salatlah kalian sebagaimana kalian mengetahui bagaimana tata cara salatku," H.r. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, I:226

2. Hadis-hadis tentang kaifiat turun untuk sujud diriwayatkan dalam dua cara yang bertentangan
a. Mendahulukan lutut sebelum tangan

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَ تَ يْهِ
قَ بْلَ يَدَيْهِ وَإِذَا نَََضَ رَفَعَ يَدَيْهِ قَ بْلَ رُكْبَ تَ يْهِ

Dari Wail bin Hujr, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah saw. bila hendak sujud beliau menyimpan kedua lututnya sebelum kedua tangannya, dan bila bangkit beliau mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya.” H.r. At-Tirmidzi, Abu Daud, An-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hiban, Al-Baihaqi, Al-Khatib Al-Bagdadi, Ibnu Khuzaimah, Ad-Daraquthni, At-Tabrani, dan Ad-Darimi. Semuanya melalui rawi Syarik bin Abdullah an-Nakha’i. Dan dalam riwayat al-Haitsami melalui rawi Israil bin Yunus (Mawaridhud Zham-an, hal. 132 No. 487)

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كبَّّ ... ثُُ إنْ طَّ بِِ ل تَّكْ بِ ي حَ تََّّ
سَ ب قَ تْ رُكْ ب تَاه يَدَ يْهِ .
Dari Anas bin malik, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah saw. bertakbir... Kemudian beliau turun (ke sujud) sambil bertakbir sehingga kedua lututnya mendahului kedua tangannya.” H.r. Al Baihaqi, As-Sunanul Kubra II:99; Ad-Daraqutni, Sunan Ad-
13
Daraqutni I:345; Al Hakim, Al Mustadrak I: 226. Redaksi hadis di atas adalah riwayat al-Baihaqi.

عَنْ أَبِِْ هُ رَيْ رَةَ عَنِ النَّبِِِِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَ لْيَ بْدَأْ بِرُكْبَ تَ يْهِ قَ يْلَ
يَدَيْهِ وَلاَ يَبُّْكْ ب رُُوْكَ الَْْمَلِ .

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. ia bersabda, “Apabila seseorang di antara kamu sujud, maka mulailah dengan kedua lututnya sebelum kedua tangannya dan janganlah menderum seperti menderum(turun untuk duduk)nya unta.” H.r. Al-Baihaqi, As-Sunanul Kubra, II:100 dan Ibnu Abu Syaibah, al-Mushannaf, I:295

b. Mendahulukan tangan sebelum lutut

عَنْ أَبِِ هُرَيْ رَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلا يَبُّْكْ كَمَا
يَبُّْكُ الْبَعِيُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَ بْلَ رُكْبَ تَ يْهِ

Dari Abu Huraerah, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seseorang hendak sujud, maka janganlah menderum seperti menderumnya unta, dan hendaklah ia menempatkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya". H.r. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai, Al-Baihaqi, Ad-Daraquthni, dan Ad-Darimi. Semuanya melalui rawi Abdul Aziz bin Muhamad Ad-Darawardi.

عَنْ أَبِِ هُرَيْ رَةَ أَنَ ال نَّبَِِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ي عَْ مِ دُ أ حَ دُكُ مْ ف يَ بُّكُ فِِ صَ لا تِهِ ب رُ وكَ
الْْ مَ لِ

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi saw. bersabda, “Seseorang di antara kamu bersandar kemudian ia menderum dalam salatnya sebagaimana menderumnya unta.” H.r. At-Tirmidzi, Tuhfatul Ahwadzi, II : 136 dan Abu Daud, Aunul Ma’bud III : 51

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كانَ إِذَا سَجَدَ يَضَعُ يَدَيْهِ قَ بْلَ رُكْبَ تَ يْهِ .

Dari Ibnu Umar, sesungguhnya Rasulullah saw. bila hendak sujud, beliau menempatkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya. H.r. Ad-Daraquthni, Sunan Ad-Daraquthni, I : 27

MENDENGAR:
1. Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.Usman Shalehudin
2. Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis K.H. Drs. Shiddiq Amien, MBA
3. Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh: K.H. Muhamad Romli
4. Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut di atas

MENIMBANG:
1. Hadis-hadis tentang kaifiyat turun untuk sujud diriwayatkan dalam dua cara yang bertentangan (mendahulukan lutut dan mendahulukan tangan).

2. Perlu kejelasan tentang status/derajat hadis-hadis tersebut.

3. Hadis-hadis kaifiyat turun untuk sujud dengan mendahulukan lutut derajatnya sahih, baik yang marfu (sabda dan amal Rasul) maupun yang mauquf (amal Umar bin Khatab), karena Syarik bin Abdullah an-Nakha’i meriwayatkan hadis itu sebelum ikhtilat (pikun), sebelum menjadi Qadi di Kufah. Di samping itu riwayatnya diperkuat oleh rawi lain bernama Israil bin Yunus.

4. Hadis-hadis kaifiyat turun untuk sujud dengan mendahulukan tangan derajatnya daif, baik yang marfu maupun mauquf, karena semua sanadnya melalui rawi yang daif, yaitu Abdul Aziz bin ad-Darawardi yang sayyiul hifzhi (buruk hapalan). Demikian pula mutabi'nya melalui rawi Abdullah bin Nafi as-Shaig yang juga sayyiul hifzhi.
5. Perlu kejelasan dan ketegasan tentang kaifiyat turun untuk sujud.

Dengan demikian Dewan Hisbah Persatuan Islam

MENGISTINBAT:

Kaifiyat turun untuk sujud setelah i'tidal ba'da ruku adalah dengan mendahulukan lutut kemudian tangan dan ketika bangkit mendahulukan tangan kemudian lutut.

Demikian keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.
الله يأخذ بأيدينا الَ ما فيه خي للإسلام و المسلمين

Bandung, 03 R. Tsani 1428 H
21 April 2007 M

Ketua                                       Sekretaris
TTD                                         TTD
K.H. Usman Shalehuddin        K.H. Wawan Shofwan Sh
NIAT: 05336                            NIAT: 30400


Previous Post Next Post