Para ilmuwan Muslim telah mewariskan terapi internal dan eksternal dalam mengusir bau badan, sebuah metode yang diikuti ratusan tahun kemudian oleh berbagai pakar pengobatan dan juga masih diikuti hingga kini. Tak boleh dilupakan adalah tradisi menjaga kebersihan tubuh yang sudah menjadi salah satu intisari ajaran agama Islam dan kemudian berkembang menjadi budaya di Arabia.
Saking perhatiannya pada masalah higienitas ini, banyak dokter Muslim kala itu yang mendedikasikan satu bab khusus dalam kitab-kitab pengobatan yang membahas mengenai kebersihan diri. Kebersihan diri menjadi kunci dalam menanggulangi bau badan, misalnya, mandi dan makan secara teratur.
Bahkan, keringat berlebihan (hiperhidrosis) dianggap sebagai penyakit kulit yang membutuhkan perawatan khusus untuk menyembuhkannya. Inilah yang kita temukan dalam kitab karya Ibn al-Telmiz yang membuat bab khusus mengenai perkeringatan dan penyakit kulit ini. Sampai saat ini, ilmu kedokteran modern belum bisa memastikan apa penyebab dari keringat berlebihan ini.
Selanjutnya, pengetahuan mengenai adanya bahan yang bisa menghilangkan bau badan dan bahan untuk mencegah keringat berlebihan sudah diketahui oleh para ilmuwan Muslim zaman dulu, misalnya, Razi.
Bahan-bahan yang diresepkan sebagai penghilang bau, seperti asam borat, formalin, aluminium klorida, jus lemon, mempunyai fungsi sebagai antiseptik yang mensterilkan kulit tubuh dan mencegahnya menjadi tempat berkumpul bakteri pengolah keringat yang menyebabkan bau tak sedap. Alum juga berperan sebagai antikeringat dan penghilang bau badan. Sementara, peran parfum sekadar untuk menambahkan bau yang lebih segar pada bagian tubuh tertentu.
Ada satu lagi ilmuwan Arab yang juga menaruh perhatian pada bau badan. Ibn al-Telmiz (meninggal 1165 M) membicarakan tentang produk penghilang bau badan dalam bab ke-12 (terakhir) dari bukunya yang ber judul Farmakologi Ibn al- Telmiz.
Mengingat begitu pentingnya masalah bau ba dan ini, Ibn al- Telmiz menuliskannya dalam bab terpisah dengan tak lupa menunjukkan bagaimana cara penanggulangannya. Kitab itu merupakan buku resep obat-obatan yang paling komprehensif pada masa itu sehingga banyak menjadi rujukan berbagai rumah sakit dan dokter. Lebih penting lagi, kitab ini tak menginduk pada buku pengobatan lainnya.
Dalam salah satu resep untuk mengatasi bau badan, Ibn al-Telmiz menyebutkan ketumbar kering, tanaman rhus coriara (tanner’s su mach), dan beras yang dicuci dengan berat masing-masing sekitar 10 dirham. Semua bahan itu dimasak dengan tiga pon air (1,5 liter) hingga tersisa sepertiganya. Kemudian, larutan itu disaring. Tiga ons ramuan itu diminum tiap hari. Setelah itu, tubuh harus diusapi dengan perasan buah quince dan lumpur Armenia. Lalu, bunga butchers ditaburkan ke seluruh tubuh bersama dengan daun ta marisk dan debu halus.
Ibn al-Telmiz juga meresepkan mengenai cara untuk menghilangkan keringat berlebihan. Pertama, tubuh dibersihkan dengan cairan mawar dan bunga butchers, kemudian air mawar diusapkan ke seluruh tubuh, lalu dikipasi. Orang yang meng alami keringat berlebihan harus tidur di tempat yang dipenuhi daun sanle, anggur, butchers, plum, dan apel.
Resep dari Ibnu Sina dan Ar-Razi untuk Mengusir Bau Badan
Ibn Sina (980-1037 M) menuliskan mengenai bau badan ini di bab keempat dari buku al-Qanun fi al-Tibb membahas mengenai penanganan bau badan secara umum. Lalu, ada tulisan mengenai bubuk yang bisa mewangikan tubuh serta bermanfaat bagi orang yang mudah marah.
Ilmuwan kelahiran Uzbekistan itu menganjurkan mandi dan makan teratur serta porsinya tertata, juga makan bahan yang bisa membuat wangi badan dan menghilangkan bau keringat, seperti kemukus, pohon cassia, seledri, artichoke, dan asparagus. Juga bahan apa saja yang bisa melancarkan kencing dan memurnikan darah dari bau-bauan.
Ibn Sina juga menganjurkan mengusapi badan dengan air bunga butchers, alum, dan sirup bunga iris. Bisa juga bahan-bahan itu dijadikan obat gosok. Ibn Sina menggunakan minyak seperti minyak dari bunga butchers dan minyak mawar.
Sebagai tambahannya, dia menggunakan bahan yang bisa menutup pori-pori dan mencegah keluarnya keringat, misalnya, timbal dibakar, seng, alum, dan lainnya. Artinya, ada kesamaan pandangan antara Ibn Sina dan Razi mengenai bahan-bahan yang bermanfaat dalam mewangikan tubuh (deodoran) dan juga bahan pencegah ke ringat (antiperspiran) serta ritual mandi diikuti mengusapi tubuh dengan bahan-bahan tertentu atau terapi eksternal.
Meski demikian, Ibn Sina tak membedakan antara bahan yang berfungsi sebagai parfum atau penghilang bau badan dan bahan yang ber fungsi sebagai pencegah keluarnya keringat.
Sementara, Razi menyebut mengenai zat penghilang bau badan dan juga zat antikeringat. Misalnya, kita ambil satu ons kayu manis, valerian india, dan zat bernama azzfar al-tibb (yang berasal dari kerang-kerang an), ditambah setengah ons lumpur danau, butiran grafit, dan bedak.
Ditambah satu ons bunga artemisia judea dan bunga valerian romawi, serta tiga ons safron dan mawar kering. Kemudian, bahan-bahan yang telah dike ring kan itu ditumbuk bersa ma air bunga butchers dan safron, dilarutkan dalam sirup rehani.**8
Sumber : rol
