Kita Kini Dipenghujung Ramadhan, Bahagia vs Bersedih

Waktu seperti begitu cepat berlalu. Kita kini telah berada di penghujung Ramadhan, yang artinya tinggal beberapa hari lagi bulan suci ini akan pergi. Kalau kita perhatikan masyarakat di sekeliling kita, sebagian mereka bahkan mulai disibukkan dengan hiruk pikuk hari raya lebaran, Idul Fitri. Luapan kegembiraan sudah terasa. Mall-mall menjadi padat. Lalu lintas lambat merayap. Banyak rumah berganti cat. Baju baru dan makanan enak juga telah siap.

Demikian gempitanya masyarakat kita di era modern ini berbahagia di penghujung akhir Ramadhan, tidak demikian dengan para sahabat dan salafus shalih. Semakin dekat dengan akhir Ramadhan, kesedihan justru menggelayuti generasi terbaik itu. Tentu saja kalau tiba hari raya Idul Fitri mereka juga bergembira karena Id adalah hari kegembiraan. Namun di akhir Ramadhan seperti ini, ada nuansa kesedihan yang sepertinya tidak kita miliki di masa modern ini.

Mengapa para sahabat dan orang-orang shalih bersedih ketika Ramadhan hampir berakhir? Kita bisa menangkap alasan kesedihan itu dalam berbagai konteks :

Pertama, patutlah orang-orang beriman bersedih ketika menyadari Ramadhan akan pergi, sebab dengan perginya bulan suci itu, pergi pula berbagai keutamaannya.

Bukankah Ramadhan bulan yang paling berkah, yang pintu-pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup? Bukankah hanya di bulan suci ini syetan dibelenggu? Maka kemudian ibadah terasa ringan dan kaum muslimin berada dalam puncak kebaikan

Bukankah hanya di bulan Ramadhan amal sunnah diganjar pahala amal wajib, dan seluruh pahala kebajikan dilipatgandakan hingga tiada batasan?

Semua keutamaan itu takkan bisa ditemui lagi ketika Ramadhan pergi. Ia hanya akan datang pada bulan Ramadhan setahun lagi. Padahal tiada yang dapat memastikan apakah seseorang masih hidup dan sehat pada Ramadhan yang akan datang.

Kedua, adalah peringatan dari Rasulullah 
"Celakalah seorang yang memasuki bulan Ramadhan namun dia tidak diampuni dosa-dosanya" (HR. Hakim dan Thabrani)

Masalahnya adalah, apakah seseorang bisa menjamin bahwa dirinya mendapatkan ampunan itu. Sementara jika ia tidak dapat ampunan, ia celaka. Betapa hal yang tidak dapat dipastikan ini menyentuh rasa (takut) para sahabat dan orang-orang shalih. Mereka takut sekiranya menjadi orang yang celaka karena tidak mendapatkan ampunan, padahal Ramadhan akan segera pergi. Maka mereka pun menangis, meluapkan ketakutannya kepada Allah seraya bermunajat agar amal-amalnya diterima, dengan berdoa :
Wahai Rabb kami… terimalah puasa kami, shalat kami, ruku’ kami, sujud kami dan tilawah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 

Perbedaan (paradigma, persepsi) dalam memandang akhir Ramadhan itulah yang kemudian membawa perbedaan sikap antara generasi sahabat dan generasi kita saat ini. Jika sebagian masyarakat, seperti dikemukakan di atas, asyik berbelanja menyambut Idul Fitri, para sahabat asyik beri’tikaf di sepuluh hari terakhir.

Jika kita sibuk menyiapkan kue lebaran, para sahabat dan salafus shalih sibuk memenuhi makanan ruhaninya, bersungguh-sungguh beribadah sepanjang siang, terlebih lagi di waktu malam.

Jika kita mengalokasikan banyak uang dan waktu untuk membeli pakaian baru, para sahabat dan salafus shalih menghabiskan waktu mereka dengan pakaian taqwa. Dengan pakaian taqwa itu mereka menghadap Allah di masjid-Nya, bertaqarrub (mendekatkan diri) dalam khusyu’nya shalat, tilawah, dzikir, dan munajat.

Masih ada waktu bagi kita sebelum Ramadhan pergi untuk  perbaiki sikap kita,  mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak tilawah, dzikir,  sholat yang  khusuk dan bermunajat.

Dahulu salafus shalih bersungguh-sungguh mnny menyempurnakan dan memantapkan amal, kemudian mereka mempertimbangkan apakah amalan itu diterima, dan mereka takut amal itu ditolak. Mereka adalah orang-orang:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِّمْ رَاجِعُونَ (٦٠)

“Yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut” (Qs. Al-Mu'minun: 60)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata, "Hendaklah kalian lebih nenaruh perhatian terhadap diterimanya amal dari amal itu sendiri."

Sebagiab salafus shalih berkata, "Mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka datang pada bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar menerima amal mereka."

Dari Al Hasan Al Bashri rahimahullah , ia berkata, “Allah membuat bulan Ramadhan sebagai rahasia untuk mendapatkan-Nya, mereka berlomba-lomba di mana dengan ketaatan bagi-Nya untuk mendapatkan keridhaan-Nya. Saat kaum lebih dulu lalu mereka beruntung, dan kaum lainnya tertinggal lalu mereka merugi. Namun, yang mengherankan adalah orang yang bermain-main lagi bersendau gurau pada hari kompilasi itu orang-orang yang ikut kebajikan mendapat untung dan orang-orang yang mencoba batil mendapat kerugian! ”

Ali bin Abi Thalib biasa berseru di akhir malam bulan Ramadhan, “Duhai merinding bulu romaku, siapakah orang yang menerima amalnya lalu aku memberikan ucalan selamat diterima? Dan siapakah yang ditolak lalu aku berta'ziah membantah ?! ”

Duhai orang yang membebaskan Rabb dari dari! Jangan pulang kembali diperbesar…

Apakah Rabb mu menjauh dari pergi selagi pergi mendekatinya? Apakah Dia menyelamatkanmu selagi kau menjerumuskan dirimu ke dalam ditugaskan?

Para hamba Allah! Bulan Ramadhan telah bertekat untuk pergi, dan tidak dikembalikan darinya. Siapa di antara kalian yang telah berhasil, maka dibutuhkanlah ia yang berhasil. Barang siapa yang telah melalaikannya, memerlukanlah ia mengakhirinya dengan yang lebih baik, karena amal itu tergantung pada penutupnya.

Manfaatkanlah malam-malam di hari-hari Ramadhan yang tinggal sedikit ini, dan ucapkanlah selamat tinggal dengan amal shalih, niscaya ia akan menjadi penonton bagi kalian di sisi Raja Yang Maha Mengetahui. Lepaskanlah Ramadhan, kompilasi akan berpisah, dengan salam penghormatan yang lebih baik.


Demikian semoga bermanfaat,.... aamiin.

NN/WAG


Previous Post Next Post