Hubungan Kesehatan dan Keimanan

Para ahli medis mengatakan bahwa kesehatan jasmani sangat dipengaruhi oleh kesehatan jiwa seseorang, jika seseorang terkena penyakit hati maka itu akan mempengaruhi kesehatan jasmaninya, persoalan ini lebih dipengaruhi oleh tidak seimbanya dimensi lahiriyah dan batiniyah seseorang.
Kesehatan menjadi hal yang istimewa setelah keimanan. Tidak sedikit ulama yang membahas mengenai kesehatan dan pentingnya menjaga kesehatan. Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam Kitabnya Ath-Thibbun Nabawi, beliau menjelaskan bahwa penyakit ada 2 macam yaitu penyakit hati dan penyakit jasmani.
Ternyata orang yang selalu menjaga ketenangan jiwanya di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern akan terhindar dari persoalan medis dan penyakit.
Hubungan ketenangan dan keimana jiwa dapat dianalisis dan dibuktikan secara medis, keterkaitan antara keduanya terbentuk berkat otak manusia yang berfungsi sebagai pengatur dan pengendali seluruh metabolisme tubuh.
Dalam otak manusia terdapat dua sistem syaraf yang mempengaruhi metabolisme tubuh, yaitu syaraf simpatik dan syaraf para simpatik, sistem syaraf ini mengendalikan tugas berbagai organ dan jaringan tubuh seperti mengatur kekuatan detak jantungdang mengatur fungsi serta peran berbagai kelenjar (organ tubuh yang bertugas mengeluarkan enzim atau hormon).
Pusat kendali kedua syaraf ini terdapat pada otak bagian tengah yang disebut Hipotalamus dan terhubung dengan kelenjar Pituari, mesi ukurannya sangat kecil yang tak lebih dari setengah gram, kelenjar Pituari mengatur dan menendalikan kelenjar endrokrin  yang mengatur berbagia fungsi tubuh seperti kelenjar Tyroid, klenjar Suprarenal, kelenjar Testis, kelenjar Ovarium dan lain-lain.
Hubungan antara kinerja kelenjar tersebut dengan kondisi jiwa manusia sangta erat. Rasa gelisah, resah, sedih, atau marah dapat meningkatkan produksi suatu kelenjar yang dapat merusak keseimbangannya, jika kelenjar tertentu menghasilkan hormon terlalu banyak maka akan mengakibatkan rasa sakit karena ketidak seimbangan hormon.
Jika pengaruh kondisi kejiwaan tersebut dibiarkan maka akan menjadi gangguan dan penyakit, seperti asma, gula, darah tinggi dan lain lain.
Obat untuk kegelisahan yang paling mujarab adalah keyakinan kepada Allah dan selalu berzikir, serta melaksanakan seluruh ajaran yang dibawa oleh Rasulullah secara Kafah.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menempatkan kesehatan sebagai nikmat yang terbaik sesudah nikmat keimanan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Sesungguhnya manusia tidak diberikan sesuatu yang terbaik sesudah keyakinan (iman) kecuali kesehatan.” (Musnad Ahmad, Juz 1, Hal. 37). “Mohonlah kepada Allah keselamatan dan kesehatan. Sesungguhnya tiada sesuatu pemberian Allah sesudah keyakinan (iman) lebih baik daripada kesehatan” (HR. Ibnu Majah).
Ketika dikarunia nikmat iman dan nikmat sehat, maka sudah sepantasnya amanah tersebut digunakan hanya untuk perkara-perkara yang menuju kepada ketaatan.
Kesehatan menjadi hal yang istimewa setelah keimanan. Tidak sedikit ulama yang membahas mengenai kesehatan dan pentingnya menjaga kesehatan. Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam Kitabnya Ath-Thibbun Nabawi, beliau menjelaskan bahwa penyakit ada 2 macam yaitu penyakit hati dan penyakit jasmani. Kedua penyakit itu disebutkan dalam Al-Quran.
Penyakit Hati sendiri terbagi menjadi dua : (1) Penyakit syubhat yang disertai keragu-raguan dan (2) penyakit syahwat yang disertai kesesatan.
Berkenaan dengan penyakit syubhat, Allah berfirman, “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya” (QS. Al-Baqarah: 10) Allah juga berfirman, “Supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.”” (QS. Al-Mudatsir: 31)

Semua ayat ini berkaitan dengan penyakit syubhat dan keraguan. Adapun penyakit syahwat, difirmanka oleh Allah, “Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya…” (QS. Al-Ahzab: 32). Ayat ini berkenaan dengan penyakit syahwat zina.
Berkenaan dengan penyakit jasmani, Allah berfirman, “Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit.” (QS. An-Nur: 61).

Kesehatan memang penting. Dalam kondisi sehat, seseorang bisa beraktivitas dengan optimal. Pikirannya juga akan bekerja dengan baik dan penuh konsentrasi. Bandingkan dengan orang yang sakit. Misalnya, seseorang terserang penyakit demam. Tidak hanya pergerakan fisik yang terganggu, tetapi juga pikiran menjadi tidak optimal berkonsentrasi. Apalagi jika demamnya tinggi yang membuatnya harus rehat di ranjang. Atau, seseorang mengalami sakit yang parah sehingga harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari.

Dalam hadis lain disebutkan bahwa setiap kali ada orang yang masuk Islam, Nabi selalu mengajarkan doa kepadanya yang antara lain berisi permohonan akan kesehatan. Thariq bin Asyyam menceritakan: Seseorang apabila masuk Islam, maka Nabi mengajarkan shalat padanya, kemudian orang itu diperintahkan supaya berdoa dengan kalimat-kalimat ini, “Ya Allah, berikanlah kepada saya pengampunan, kerahmatan, petunjuk, kesehatan dan rezeki.” (HR Muslim)

Dalam riwayat lain, Thariq pernah mendengar Nabi yang ketika didatangi oleh seorang lelaki, lalu ia bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimanakah yang harus saya ucapkan di waktu saya akan memohonkan sesuatu pada Tuhanku?” Beliau menjawab, “Ucapkan doa, ‘Ya Allah, berikanlah pengampunan padaku, kerahmatan, kesehatan dan rezeki’, sebab doa ini dapat menghimpun segala kepentinganmu dalam urusan dunia dan akhiratmu.” (HR Muslim)

Nabi sendiri berdoa memohon kesehatan untuk diri beliau sendiri selain permohonan lainnya. Ibnu Umar mengatakan, “Sebagian dari doa Rasulullah ialah, ‘Ya Allah, sesungguhnya saya mohon perlindungan pada-Mu dari lenyapnya kenikmatan-Mu, dari bergantinya kesehatan dari-Mu, dari tibanya siksa-Mu yang datang mendadak, dan dari segala macam kemurkaan-Mu.’” (HR Muslim)

Namun, manusia perlu ingat dan mawas diri. Kesehatan yang dimohonkan kepada Allah, kemudian Allah mengabulkannya, sesungguhnya mengandung konsekuensi atau tanggung jawab bahwa kesehatan itu perlu dimanfaatkan untuk kebaikan atau melakukan hal-hal yang baik dalam kehidupan, baik itu terhadap Allah maupun terhadap sesama dan lingkungan. Terkadang, manusia lalai saat sehat, seperti diingatkan Nabi, “Ada dua kenikmatan yang membuat banyak orang teperdaya, yakni nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR Al-Bukhari)

Jangan sampai kesehatan justru dimanfaatkan untuk melakukan sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya, karena itu berarti tidak mensyukuri nikmat. Pada hadis lain ditegaskan bahwa anugerah kesehatan ini akan menjadi pertanyaan pertama yang dilontarkan kepada manusia di akhirat. Nabi bersabda, “Sesungguhnya kenikmatan dari Allah yang pertama kali ditanyakan kepada seorang hamba kelak pada hari kiamat ialah, ‘Bukankah telah Kami berikan kesehatan pada tubuhmu dan Kami berikan air minum yang sejuk?’” (HR At-Tirmidzi). Wallahu a’lam.


Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,
ﻻ ﺃﻋﻠﻢ ﻋﻠﻤﺎ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺤﻼﻝ ﻭﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ﺃﻧﺒﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻄﺐ ﺇﻻ ﺃﻥ ﺃﻫﻞ
ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻗﺪ ﻏﻠﺒﻮﻧﺎ ﻋﻠﻴﻪ .
“Saya tidak mengetahui sebuah ilmu -setelah ilmu halal dan haram- yang lebih berharga selain ilmu kedokteran, akan tetapi ahli kitab telah mengalahkan kita” (Siyar A’lam An-Nubala 8/528, Darul Hadits, Kairo, 1427 H, Syamilah)
Hari ini, 90 tahun sejak runtuhnya Khilafah Utsmaniyah pada tahun 1924, ilmu kedokteran masih berkembang di Barat. Seluruh dunia hampir merujuk ke Amerika dan Eropa dalam hal perkembangan ilmu kedokteran. Mempelajari ilmu kedokteran bagi muslim adalah fardhu kifayah.
Imam Syafi’i pun menyebut ilmu kedokteran sebagai ilmu syar’i. Beliau rahimahullah berkata,
ﺿﻴﻌﻮﺍ ﺛﻠﺚ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﻭﻛﻠﻮﻩ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ.
“Umat Islam telah menyia-nyiakan sepertiga ilmu (ilmu kedokteran) dan meyerahkannya kepada umat Yahudi dan Nasrani.” (Siyar A’lam An-Nubala Adz-Dzahabi 8/258, Darul Hadits, Kairo, 1427 H, Asy-Syamilah)
Syaikh Muhammad Ast-Syinqitiy rahimahullah berkata menjelaskan perkataan Imam Asy-Syafi’i, “Mengapa sepertiga ilmu? Karena ilmu syar’i ada dua : (1) ilmu yang berkaitan dengan keyakinan, dan (2) ilmu yang berkaitan dengan badan dan anggota badan.
Maka menjadi, ilmu dzahir dan ilmu batin. Ilmu tauhid dan cabangnya yang merupakan realisasi dari tauhid. Maka dua ilmu ini adalah pengobatan ruh dan jasad. Tersisa pengobatan badan dari bagian ilmu dzahir yaitu ilmu ketiga. Inilah yang dimaksud oleh perkataan Imam Asy-Syafi’i dari pemahamannya, “Umat Islam telah menyia nyiakan sepertiga ilmu (ilmu kedokteran) dan meyerahkannya kepada umat Yahudi dan Nasrani.”
Yaitu maksudnya butuh terhadap orang Yahudi dan Nashrani (jika ingin berobat, karena tidak ada/sedikit kaum muslim yang menguasai ilmu kedokteran).” (Durus Syaikh Muhammad Asy-Syinqitiy)
Meskipun perkataan ulama bukan sebuah dalil, namun beliau seorang yang ahli dalam ilmu hadits dan ilmu fiqih. Maka pendapat beliau pun insya Allah lebih berhati-hati daripada pendapat kita yang sangat jauh derajat keilmuannya dibanding beliau.
Menjadi sangat istimewa ketika ilmu tersebut adalah ilmu syar’i. Beliau rahimahullah berkata,
ﻃﻠﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﻦ ﺻﻠﺎﺓ ﺍﻟﻨﺎﻓﻠﺔ
“Menuntut ilmu (ilmu syar’i) itu lebih utama daripada shalat sunnah.” (Shahih Jami’ Al-Bayan 31/48).
Orang yang mengerjakan shalat sunnah dan semisalnya, tidak ada yang merasakan manfaatnya kecuali hanya dirinya sendiri.
Wallahu a’lam.
Sumber Artikel : 

Previous Post Next Post