Kita diperintahkan Allah untuk bertakwa di mana pun kita berada dengan sebenar-benar takwa. Nabi bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada.” (HR At-Tirmidzi). Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali ‘Imran [3]: 102)
Takwa secara bahasa artinya menjaga diri. Maksudnya, menjaga diri dari hal-hal buruk atau perbuatan dosa dan pada saat yang sama melakukan amal-amal kebaikan yang mengandung pahala. Adapun secara istilah, takwa adalah melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Orang yang bertakwa memiliki banyak keutamaan, di antaranya:
Pertama, menjadi keluarga Nabi Muhammad (umatnya). Nabi bersabda, “Tiap orang yang bertakwa termasuk keluarga Muhammad (umat Muhammad).” (HR Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi).
Kedua, orang yang bertakwa mendapatkan kemuliaan di akhirat. Di dunia pun orang bertakwa adalah orang yang utama (berkualitas). Nabi bersabda, “Kemuliaan dunia adalah kekayaan dan kemuliaan akhirat adalah ketakwaan. Kamu, baik laki-laki maupun perempuan, kemuliaanmu adalah kekayaanmu, keutamaanmu adalah ketakwaanmu, kedudukanmu adalah akhlakmu dan (kebanggaan) keturunanmu adalah amal perbuatanmu.” (HR Ad-Dailami)
Ketiga, takwa merupakan kunci masuk surga. Rasulullah pernah ditanya tentang sebab-sebab paling banyak yang memasukkan manusia ke surga. Beliau menjawab, “Ketakwaan kepada Allah dan akhlak yang baik.” Beliau ditanya lagi, “Apa penyebab banyaknya manusia masuk neraka?” Beliau menjawab, “Mulut dan kemaluan.” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)
Keempat, takwa adalah kumpulan segala kebaikan. Karena, orang yang bertakwa dituntut untuk melaksanakan perintah Allah yang mengandung kebaikan. Tidak satu pun perintah Allah kecuali di dalamnya mengandung banyak kebaikan. Nabi bersabda, “Bertakwalah kepada Allah karena itu adalah kumpulan segala kebaikan.” (HR Ath-Thabrani)
Kelima, orang yang bertakwa akan dibantu oleh Allah keluar dari segala kesulitan duniawi dan diberi rezeki yang banyak dari jalan yang tidak disangka-sangkanya. Allah berfirman, “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS Ath-Thalaq [65]: 2-3)
Keenam, Allah mengampuni dosa-dosa orang yang bertakwa. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan (pembeda) dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS Al-Anfal [8]: 29)
Takwa adalah pangkal segala kebaikan, pembuka rezeki, penghapus dosa, kunci masuk surga, kunci kemuliaan di akhirat dan menjadikan pelakunya sebagai keluarga Nabi Muhammad. Betapa beruntungnya orang yang bertakwa. Kuncinya, menghindari segala hal-hal buruk dan melakukan hal-hal baik sebagai manifestasi dari menaati Allah dan Rasulullah. Pendek kata, orang yang bertakwa bahagia hidupnya di dunia dan di akhirat.
Takwa Menurut Khalifah Umar Bin Khattab
Pebincangan para sahabat adalah sebaik-baik perbincangan. Mereka tak memperbincangkan sesuatu kecuali kebaikan. Tak ada diskusi yang sia-sia, melainkan di dalamnya membicarakan amal. Jarang muncul perdebatan tentang sebuah perkara, melainkan banyak percakapan soal amal.
Seperti percakapan indah dua sahabat Umar bin Khattab RA dan Ubay bin Ka'ab ini. Umar yang meriwayatkan atsar ini bertanya kepada Ubay, "Wahai Ubay, apa makna takwa?" Ubay yang ditanya justru balik bertanya. "Wahai Umar, pernahkah engkau berjalan melewati jalan yang penuh duri?"
Umar menjawab, "Tentu saja pernah." "Apa yang engkau lakukan saat itu, wahai Umar?" lanjut Ubay bertanya. "Tentu saja aku akan berjalan hati-hati," jawab Umar. Ubay lantas berkata, "Itulah hakikat takwa."
Percakapan yang sarat akan ilmu. Bukan hanya bagi Umar dan Ubay, melainkan juga bagi kita yang mengaku manusia bertakwa ini. Menjadi orang bertakwa hakikatnya menjadi orang yang amat berhati-hati. Ia tidak ingin kakinya menginjak duri-duri larangan Allah SWT.
Ia rela mengerem lajunya, memangkas egonya, menajamkan pandangan, menelisik sekitar, dan mencari celah jalan selamat. Semua fungsi tubuh ia maksimalkan agar ia tak celaka. Agar sebiji duri pun tak melukai kemudian mengucurkan darah dari kakinya. Takwa hakikatnya hati-hati.
Kita selalu diajarkan maka takwa. Takwa ialah menjalani perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Definisi yang sudah puluhan tahun kita hafal. Namun, bagaimanakah implementasinya? Apakah justru kita menjadi pribadi yang malas-malasan menjalankah perintah Allah SWT dan penasaran ingin mencoba apa yang dilarang Allah? Naudzubillah.
Hidup pada zaman yang serbaterbolak-balik ini, kita memerlukan tameng berupa akal sehat. Agar orang bertakwa tetap 'waras'. Kita hidup pada saat oknum penegak hukum meruntuhkan hukum, oknum pemimpin rakyat mengakali rakyat. Suka sesama jenis dianggap normal, minuman keras dianggap barang investasi, diliput media karena bercerai adalah kerja membangun citra.
Orang bertakwa dan orang beriman tidak dapat dipisahkan. Sifat takwa melebur dalam keimanan. Begitu juga sebaliknya. Menjadi orang bertakwa adalah berusaha keras menggenapi apa saja prasyaratnya. Allah SWT berfirman, "Beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (QS al-Baqarah [2]: 177).
Takwa yang bukan sebatas slogan akan membekas dalam jiwa seseorang. Ia akan menjadi filter. Ia ada zat asing masuk ke dalam hati, takwa akan menyaringnya. Jika ia buruk, ia akan memerintahkan tubuh untuk menjauhinya. Takwa yang sebenarnya akan menjadi karakter.
Orang bertakwa secara otomatis mengerti mana saja jalan yang boleh ia tempuh maka yang ia harus hindari. Seperti kesimpulan Umar saat berbincang dengan Ubay. Umar RA menyimpulkan, "Takwa adalah berjalan di hutan dengan hati-hati."
Sumber:
fajar-kurnianto
republika
