DALAM sebuah wawancara dengan Don Tapscott, Mark Zuckerberg menjelaskan tentang popularitas Facebook yang dia buat: “Supaya kita bisa sukses dalam abad ini, kita akan perlu lebih terhubung dan akan perlu memiliki pengertian yang lebih baik tentang dari mana asal seseorang dan kesadaran yang lebih kuat tentang kebersamaan. Kita semua saling terhubung.” (Tapscott, Grown Up Digital, 2009)
Keterhubungan dan kebersamaan untuk saling mengerti adalah mantra sukses Facebook mendulang banyak penggemar dan anggota dari seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Media sosial ini pada awalnya memang dibuat untuk arena pertemanan dan saling berbagi informasi. Namun, seiring berjalannya waktu, ia telah menjelma menjadi media yang dimanfaatkan atau difungsikan untuk berbagai kepentingan, dari sekadar pertemanan biasa, hingga bisnis, bahkan agama dan politik.
Lewat Facebook, warga dunia memang benar-benar terhubung dan berinteraksi dalam waktu yang sama. Menulis status, menyukai status orang dan membaginya, berbagi foto dan video, membagi berita-berita tebaru dari portal-portal berita, menulis catatan bak di buku diari, membuat laman untuk para penggemar atau grup-grup eksklusif dengan anggota terbatas kalangan tertentu, dan seterusnya. Untuk mengetahui berita terbaru, orang tak lagi menuju ke sumber-sumber portal berita, tetapi cukup membuka Facebook dan akan menemukannya.
Dengan Facebook, orang tak perlu hadir di suatu tempat untuk ikut terlibat di dalam sebuah peristiwa atau kejadian untuk menyaksikan atau menjadi bagian darinya secara langsung. Kehadiran fisik dianggap tak lagi penting, atau memang telah terjadi pergeseran dan perubahan hubungan antar-individu yang tak lagi melibatkan fisik atau ragawi. Sesuatu yang sesungguhnya telah dimulai bahkan sejak revolusi industri ketika telepon atau lainnya ditemukan hingga penemuan terbesar dan terpenting yang berkembang setelahnya: internet.
Media sosial seperti Facebook telah mengubah pola dan makna hidup dalam hal interaksi sosial dari “wujud dengan bentuk” menjadi “wujud tanpa bentuk”, atau sebaliknya, menghadirkan individu-individu wujud tanpa bentuk itu ke dunia nyata; bertemu, bergabung dan menyuarakan atau mengaspirasikan hal-hal tertentu seperti yang diinginkan bersama. Berbagai aksi massa di jalanan atau tempat-tempat tertentu, dengan atau atas nama tertentu, antara lain muncul dari informasi atau ajakan yang disebarkan di media sosial. Seorang tokoh sosial, agama, politik, atau yang lainnya, bisa menggalang atau mengumpulkan massa untuk motivasi atau tujuan yang berbeda-beda.
Melalui mantra keterhubungan dan kebersamaan, Facebook telah menjadi kekuatan yang bisa menggerakkan jutaan orang untuk melakukan hal yang sama atau berbeda. Ia bisa menjadi media yang memberdayakan warga untuk berkembang lebih baik dan maju, inovatif, kreatif, dan inklusif. Namun, pada sisi lain ia bisa juga sebaliknya; menjadi media yang mendegradasi nilai-nilai kemanusiaan, adab, etika, estetika, norma-norma sosial dan seterusnya. Keterbukaan atau demokratisasi di media sosial membuat orang bisa bicara atau bertindak sesuai selera dan kepentingan sendiri-sendiri yang kerap kali tak mencerminkan atau bertujuan untuk menciptakan kedekatan, keakraban dan sisi-sisi manusiawi lainnya, tetapi malah menciptakan kerenggangan, keterpisahan, dan keterlepasan.
Dunia memang berisi hal-hal paradoks, termasuk di media sosial. Ada berbagai ragam kepentingan, hasrat, dan keinginan yang menyelinap dalam diri manusia kemudian disalurkan di dalamnya. Itu bisa saja mempengaruhi atau menciptakan dampak tertentu yang tak bisa dianggap sebelah mata. Berita-berita bencana alam yang hari-hari ini menghiasi laman portal berita mana pun, misalnya, telah menggerakkan jutaan orang untuk bersimpati, mendoakan dan menggalang bantuan untuk para korban. Namun, berita-berita bohong atau hoaks juga menghiasi banyak portal berita, dan itu kemudian ditelan mentah-mentah tanpa dikunyah atau diseleksi dan diverifikasi lebih dulu.
Belum lagi berbagai ajakan destruktif yang menghancurkan kemanusiaan dan merusak kehidupan, seperti radikalisme, terorisme, vandalisme, kriminalisme, dan seterusnya. Para radikalis seperti menemukan momentum dan wadah untuk menyebarluaskan, menanamkan dan mempengaruhi warga dengan iming-iming kenikmatan eskatologis, diperkuat dengan jargon-jargon teologis-religius yang dicomot secara sembrono dan lepas dari konteksnya, atau dipahami secara serampangan tanpa mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan dan rasionalitas. Orang yang emosinya labil dan rasionalitasnya tak terlatih akan dengan cepat menganggapnya sebagai kebenaran yang harus dipegang, diikuti dan dipraktikkan.
Bukan hanya para ideolog-radikalis yang memanfaatkan media sosial, melainkan juga para elite politik, termasuk para penumpang gelap demokrasi yang memanfaatkan demokrasi untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya dengan mencari-cari celah untuk merampok uang negara yang merupakan uang rakyat. Vedi R Hadiz menyebut mereka sebagai para predator. Mereka menciptakan semacam labirin untuk mengkamuflase kebenaran dan mengukuhkan oligarki politik demi semata-mata mendapatkan “jatah” kekuasaan dari siapa pun mereka dukung. Lalu, dengan kekuasaan itu mereka seolah-olah tidak hanya menguasai individu warga, tapi juga pikiran mereka melalui wacana, jargon, dan ikonisasi di ruang publik.
Media sosial seperti Facebook memang telah menciptakan keterhubungan dan kebersamaan di mana antar-individu menjadi saling mengerti apa dan bagaimana untuk menciptakan warga dunia yang lebih baik dan maju. Namun, selalu ada paradoks yang menyertainya. Ada sisi gelap yang tiba-tiba muncul atau diciptakan di sudut-sudut media sosial yang mungkin tak kita sadari telah mempengaruhi pola pikir dan membangkitkan hasrat purba kita sebagai makhluk yang disebut Thomas Hobes sebagai homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi sesamanya. Manusia memangsa dan menghancurkan sesamanya demi hasrat dan ambisi kekuasaan sesaat.
Panorama peradaban manusia milenial saat ini yang didominasi kekuataan teknologi, salah satunya internet, dengan media-media sosial sebagai anak-anak kandungnya, perlu dilihat lebih holistik dan bijak. Paradoks selalu ada, dan itu menjadi tantangan setiap individu untuk melampauinya guna menemukan cahaya harapan. Mengutip kata-kata bijak Nabi, manusia terbaik adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Keterhubungan dan kebersamaan mestinya membawa manfaat bagi banyak orang, bukan sebaliknya.
Sumber : Fajar Kurnianto
