Tiga Bahaya Lisan

Rasulullah saw mengingatkan, “Manusia yang paling banyak dosanya pada hari kiamat adalah mereka yang banyak bicara/berkata pada hal-hal yang tidak ada manfaatnya”. 

Oleh sebab itu wajar kalau Nabi memberi kabar gembira, “Berbahagialah/beruntunglah bagi orang yang bisa menjaga lisanya”. (HR.Thabrani) Dari sekian banyak penyakit lidah, antara lain : 

Pertama; Mengadu Domba 

Allah swt mengingatkan dalam Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 6, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kamu orang fasik membawa berita, maka ditelitilah, supaya tidak menimpa suatu kaum atau suatu kelompok masyarakat atau seseorang disebabkan karena tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya, maka nanti engkau akan menyesal”. 

Dalam Qur’an Surat Al-Qalam, Allah mengungkapkan, “Ada manusia yang tipenya sangat buruk sekali. Janganlah kamu mengikuti/menaati orang-orang yang mendustakan agama”. Orang yang banyak mencela, yang banyak berjalan ke sana ke mari dengan mengadu domba, yang sangat enggan/menolak terhadap kebaikan, yang banyak dosa, yang kasar, selain itu ia juga terkenal jahat, korup. Kenapa ada orang seperti itu, karena dia merasa punya/banyak harta dan anak. (Anak di sini, bisa dalam pengertian keturunan, bisa juga dalam pengertian anak buah). 

Politik adu domba telah terkenal di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda. Bangsa penjajah saat itu menamakannya sebagai devide et impera. Ini adalah sebuah strategi yang digunakan oleh pemerintah penjajahan Belanda untuk kepentingan politik, militer dan ekonomi. Politik adu domba digunakan untuk mempertahankan kekuasaan dan pengaruh penjajahan Belanda di Indonesia. 

Secara prinsip, praktik politik adu domba adalah memecah belah dengan saling membenturkan (mengadu domba) kelompok besar yang dianggap memiliki pengaruh dan kekuatan. Tujuannya adalah agar kekuatan tersebut terpecah-belah menjadi kelompok-kelompok kecil yang tak berdaya. Dengan demikian kelompok-kelompok kecil tersebut dengan mudah dilumpuhkan dan dikuasai. 

Unsur-unsur yang digunakan dalam praktik politik jenis ini adalah; 
1. menciptakan atau mendorong perpecahan dalam masyarakat untuk mencegah terbentuknya sebuah aliansi yang memiliki kekuatan besar dan berpengaruh, 
2. memunculkan banyak tokoh baru (tokoh boneka?) yang saling bersaing dan saling melemahkan, 
3. mendorong ketidakpercayaan dan permusuhan antar masyarakat, 
4. mendorong konsumerisme yang pada akhirnya memicu timbulnya KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme). 

Di negara asalnya Belanda, politik devide et impera sudah lama tak digunakan lagi. Belanda saat ini sangat menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM). Namun justru di Indonesia politik itu nampaknya masih membekas dalam dan masih saja digunakan. Apalagi setelah era reformasi yang oleh banyak pihak dinilai salah kaprah. Legislatif seperti berlawanan dengan eksekutif, partai A saling melemahkan partai B, begitu sebaliknya dan seterusnya. Padahal justru seharusnya saling bekerjasama dan saling memperkuat dan melengkapi. 

Siapa saja bisa dijadikan domba aduan, dari warga masyarakat biasa sampai warga kelas atas bisa jadi objek sasaran. Sesama pedagang bisa dipicu perpecahan, gara-gara masalah kecil bisa berkembang menjadi konflik yang besar. Perbedaan agama, suku dan sebagainya bisa memunculkan percikan api konflik yang bila diberi bensin segera berkobar menjadi konflik besar. Kita sudah banyak melihat buktinya terjadi sehari-hari. Media massa seperti bertepuk tangan dan seolah-olah ikut memberi semangat melihat kejadian ini. Inikah yang dimaksud dengan reformasi dan demokrasi? 

Dalam politik adu domba, konflik sengaja diciptakan. Perpecahan tersebut dimaksudkan untuk mencegah terwujudnya aliansi yang bisa menentang penjajah (imperialisme), entah itu kekuasaan di pemerintahan, di partai, kelompok di masyarakat, dan sebagainya. Pihak-pihak atau orang-orang yang bersedia bekerja sama dengan kekuasaan, dibantu atau dipromosikan, mereka yang tidak bersedia bekerjasama segera disingkirkan. Ketidakpercayaan terhadap pimpinan atau suatu kelompok sengaja diciptakan agar pemimpin atau kelompok tersebut tidak tumbuh besar dan solid. Adakalanya tidak hanya ketidak percayaan, bahkan permusuhan pun sengaja disemai. Teknik yang digunakan adalah agitasi, propaganda, desas-desus, bahkan fitnah. Praktik seperti itu tumbuh subur saat ini. 

Di tengah masyarakat kita dewasa ini, di tengah era informasi yang sangat liberal, praktik adu domba itu menjadi tontonan sehari-hari. Kita secara vulgar disuguhi berita-berita tentang perseteruan antar kelompok untuk memperebutkan kekuasaan, saling tuding, saling caci-maki, saling sikut dengan intrik-intrik politik yang sangat kasar dan kejam. Penggiringan isu, disadari atau tidak, dilakukan sedemikian rupa untuk saling menghancurkan. Di era merdeka dan modern seperti saat ini, tentu kita tidak ingin dijadikan domba aduan oleh siapapun dan pihak manapun. Imperalisme maupun neo imperalisme, tidak boleh lagi menjadi raja di negeri yang kita cintai ini, apalagi di Sumatera Barat negeri asal penggagas berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jalan keluar untuk mengatasi masalah ini sama dengan yang kita gunakan saat mengusir penjajah Belanda dulu, yaitu persatuan dan kesatuan. Mari bersatu menghimpun kekuatan bersama, jangan mau dininabobokan dan lalu diadu domba. Indonesia adalah negara besar dan memiliki potensi yang besar. Dengan kesatuan dan persatuan, insya allah kita capai kejayaan bersama dalam waktu singkat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. 

Kedua; Dusta, Bohong 

Nabi menyatakan, ‘Jauhilah olehmu dusta, sesungguhnya dusta itu menuntun pada kedurhakaan/dosa, dan sesungguhnya dosa menuntun ke neraka”. Terus-terusan seseorang berbuat dusta dan membiasakan dusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta. Di kita ada ungkapan, “Sekali lancing ke ujian, seumur hidup orang takan percaya”. Jadi kalau dusta satu kali saja, orang akan sulit percaya kepada kita. Nabi mengungkapkan, “Kalau orang sudah biasa dusta, biasanya susah keluar dari dusta”. 

Berdusta itu mudah, tapi susah mempertahakan dusta. Sebab kalau orang sudah biasa dusta, nanti cap ‘al-kadzab’ (pendusta). Nabi menyatakan, “betapa besar khianat itu, engkau bercerita kepada saudaramu sebuah cerita, ia (yang diajak cerita itu) dengan ceritamu itu percaya, sedangkan engkau kepadanya berdusta. 

Ketiga; Ingkar Janji 

Tiga hal, barangsiapa yang padanya ada ke tiga perkara ini, ia termasuk katagori orang munafik, walaupun ia shaum, walaupun ia shalat, dan ia mengaku bahwa dirinya seorang muslim : 1. Apabila ngomong, ia bohong 2. Apabila janji, ia ingkar 3. Apabila diberi amanat, ia khianat Munafik itu sebenarnya bukan orang muslim. Orang munafik adalah orang kafir. Orang kafir yang pura-pura muslim. (srigala berbulu domba, musang berbulu ayam). Dia kafir, tapi dia sembunyikan kekafirannya. Kalau orang Islam menyembunyikan keislamannya, itu dinamakan orang fasik. 

Orang muslim yang berdusta, orang muslim yang ingkar janji, ia tetap muslim pada dasarnya, hanya dia telah terlibat karakteristik/ciri-ciri orang munafik. Nabi kalau shalat, sebelum salam, banyak berlindung diri dari banyak hal, di antaranya Nabi berlindung diri dari dua hal:

 اللهمّ انّى اعوذ بك من المعثم والمغرم

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung diri kepada-Mu dari banyak dosa dan banyak hutang”. 

Rupanya do’a tersebut didengar oleh sahabat. Ada sahabat yang tanya, “Ya Rasulullah, kenapa anda banyak berlindung diri dari banyak hutang? Nabi menjawab, “Kalau banyak hutang, itu ke sananya, kalau berbicara bohong, kalau janji ingkar” Kalau orang banyak hutang, ini terlibat sebagai ciri-ciri munafik, yaitu kalau ngomong bohong. Wallahu’alam


Previous Post Next Post