Lalu bagaimana cara untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas ketakwaan kita setelah Ramadhan usai?
Ketua Umum PP Persis, KH. Aceng Zakaria memberikan pesan supaya ketaqwaan yang telah diraih selama Ramadhan tetap bertahan bahkan semakin meningkat pada sebelas bulan berikutnya.
Pertama, menjaga ketakwaan itu yakni dengan mempertahankan kebiasaan yang telah kita laksanakan di bulan ramadhan, minimal dengan menjaga ibadah-ibadah yang telah rutin dilaksanakan di bulan ramadlan, seperti shalat tarawih akan kita jaga kebiasaanya dengan melaksanakan shalat malam selepas ramadhan. Begitu juga dengan bangun subuh, karena pada umumnya orang-orang masih sulit untuk bangun subuh, paling 10% orang yang siap shalat subuh di awal waktu, tapi kan kalau pada bulan ramdlan rata-rata orang bangun pukul 3.30, pukul 04.00 sudah terhitung kesiangan, jika hal tersebut saja dapat dipertahankan maka insya Allah ada peningkatan.
Kedua, inkuntum ta’lamun, tingkatkan ilmu. Pada saat bulan ramadhan ketika kita rutin membaca al-Quran (Tadarus al-Quran) maka yang demikian pun dipertahankan dan ditingkatkan.
Ketiga, mensyukuri nikmat Allah, ternyata nikmat Allah itu besar sekali, dengan syariat ramadhan saja begitu banyak yang diuntungkan seperti lakunya orang yang berjualan, namun kadang mereka tidak sadar keuntungan yang mereka peroleh itu adalah bagian dari di syariatkannya shaum ramadhan.
Taqwa itu iman dulu, tidak mungkin taqwa tanpa iman, iman dulu sehingga akan melahirkan ketaqwaan. Dan taqwa itu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya atas dasar iman, tidak akan disebut taqwa jika tidak berlandaskan iman.
Baca juga : Taqwa Paling Bertaqwa
Di antara target shaum itu adalah la’alakum tattaqun, untuk meningkatkan kualitas ketakwaan, tentu saja dengan ibadah shaum diharapkan mampu meningkatkan kualitas ketakwaan. Harusnya takwa itu mencapai 100% menurut al-Quran (Haqqo tuqootih) tapi kenyataan di masyarakat jangankan 100% mungkin 50% saja barangkali belum, maka kita akan melihat indikasinya dari apa? Mau dari akhlak sholat, infaq, shaum apakah mampu ditingkatkan? Shaum merupakan latihan meningkatkan kualitas ketakwaan, namun ketakwaan disini tidak dinilai dari waktu subuh sampai magrib saja, selama bulan ramadlan, tapi bagaimana meningkatkan kualitas takwa pasca shaum itu yang diharapkan.
Jika kita berusaha sekuat tenaga tentu saja bisa, tapi mungkin ada yang semacam ilmunya kurang, teknisnya kurang umpamanya, tentu sebetulnya semua harus bisa meraih ketakwaan. Maka ketakwaan itu tidak hanya dilihat dari shaum saja, sholat saja dari mulai takbir hingga salam tapi juga dilihat dari pasca melaksankan sholat, shaum itu sendiri bagaimana ruhnya mampu mempengaruhi dalam keseharian seperti bagaimana seseorang menjalankan kehidupan sehari-hari. Itulah nilai ketakwaan.
Kalau dilihat (saat ini) potret masyarakat secara nasional, masih belum menggembirakan diantaranya saja masih kelihatan kegiatan-kegiatan mereka seperti di pasar, di jalan yang katanya (mayoritas) muslim tapi masih banyak yang berani meninggalkan Sholat fardhu dan shalat Jumat dengan alasan sibuk berjualan atau sedang ramai. Di jalan pun sama banyak berkeliaran seperti di angkutan umum atau tempat umum lainya mereka tidak malu lagi menyantap makanan atau merokok pada siang hari. Mereka (muslim) yang tidak melaksanakan apa yang seharusnya mereka kerjakan di bulan ramadhan namun pada saatnya idul Fitri mereka ingin ikut berlebaran juga. ***
Tulisan ini disadur dari http://persis.or.id/kh-aceng-zakaria-menjaga-ketaqwaaan-selepas-shaum-ramadhan dengan sedikit editing oleh Admin risalahnews.
